TATAKRAMA BAHASA SUNDA
Tatakrama yang dikenal dalam Basa Sunda atau biasa disebut Undak Usuk Basa Sunda (UUBS) secara umum terbagi atas dua jenis, yaitu Basa Hormat/ Lemes (Bahasa Halus), dan Basa Loma (Bahasa Akrab/Kasar) . Dalam Pembahasan UUBS di Kongres Basa Sunda tahun 1986 di Cipayung, Bogor atau disebut TATAKRAMA BASA SUNDA menyebutkan delapan ragam penggunaan Basa Sunda.
Demikianlah perjalanan pembagian ragam Basa Sunda resmi sejak tahun 1986. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini, masyarakat masih menggunakan dua tipe bahasa halus, yaitu bahasa halus untuk diri sendiri, dan bahasa halus untuk orang lain. Bila ditambahkan dengan bahasa kasar (Basa Loma), disimpulkan ada tiga jenis ragam yang digunakan dalam komunitas masyarakat Sunda saat ini.
Dalam lanjutan tulisan berikut, sesuai dengan penggunaannya sehari-hari, akan digambarkan pola tatakrama Basa Sunda yang dibagi dalam tiga ragam, antara lain:
· Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A)
· Ragam basa Lemes keur Pribadi (B)
· Ragam basa Lemes keur Batur (C)
* Keterangan tanda: # tidak sama; = sama; == terjemahan dalam Bahasa Indonesia
POLA I: A # B # C
Jumlah kata yang menggunakan pola ini terhitung sedikit (sekitar 25 kata saja). Berikut ini contohnya:
- balik # wangsul # mulih ==pulang
- bawa # bantun # candak==membawa
- beuli # peser # galeuh==membeli
- boga # gaduh # kagungan==mempunyai/memiliki
- dahar # neda # tuang==makan
- datang # dongkap # sumping==datang
- denge # kuping # dangu==mendengar
- era # isin# lingsem==malu
- gering # udur # teu damang==sakit
- imah# rorompok # bumi==rumah
- indit # mios # angkat==pergi/berangkat
- kasakit # paudur # kasawat==penyakit
- menta # nyuhunkeun # mundut==meminta
- nitah # ngajurung # miwarang==menyuruh/memerintah
- ngomong # sasanggem#sasauran==berbicara
- nyaho # terang # uninga==mengetahui
- pamajikan # bojo # garwa/geureuha==istri
- poho # hilap# lali==lupa
- sare # mondok # kulem==tidur
- tanya # taros # pariksa==bertanya
- tenjo # tingal # tingali==melihat
Contoh penggunaan dalam kalimat:
Bila kita perhatikan kalimat-kalimat di atas, predikatnya adalah “balik # WANGSUL # mulih”. A # B # C : A berbeda dengan B, B berbeda dengan C. Terdapat penggunaan diksi yang berbeda, bergantung pada subjek dalam kalimatnya. Pada kalimat pertama, subjeknya adalah “maneh”. “Maneh”, terjemahnya dalam Bahasa Indonesia adalah “kamu” (kata ganti orang kedua). Termasuk ragam Basa Loma/Akrab. Biasanya ditujukan pada kawan sebaya, sejawat, teman akrab, dll. Karena itu predikat yang dipilih untuk menyatakan “pulang” adalah “balik” (Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A)).
Sementara itu, kalimat kedua, subjeknya adalah “abdi” (saya). Jadi ragam bahasa yang digunakan adalah Basa Lemes keur Pribadi (B). Untuk kata pulang, digunakan “wangsul”. Terakhir, merupakan contoh kalimat dengan subjek “akang” (kata panggilan untuk orang ketiga yang dihormati/dituakan), digunakanlah Ragam basa Lemes keur Batur (C), sehingga predikat “pulang” dalam konteks ini menjadi “mulih”.
POLA II: A = B # C
Pola kedua mencakup kosakata yang tidak membedakan A dengan B, namun membedakan B dengan C.
Jadi, untuk diri sendiri menggunakan kata-kata kasar. Contoh utamanya yang terkait dengan bagian tubuh seperti “sirah” (kepala), “suku” (kaki). Untuk menyebutkan bagian tubuh kita sendiri seperti itu yang harus digunakan adalah bahasa kasar, sementara untuk orang lain, digunakan bahasa halus. Contohnya sebagai berikut:
- huntu = huntu # waos==gigi
- biwir = biwir # lambey==bibir
- irung =irung # pangambung==hidung
- baju = baju # raksukan==baju/pakaian
- lalajo = lalajo # nongton==menonton
- ngaji = ngaji# ngaos==mengaji
- nginum = nginum# ngaleueut==minum
- puasa = puasa # saum==berpuasa
- samping =samping # sinjang==(kain) sarung
- ulin = ulin # amengan==bermain
POLA III: A # B = C
Pola ketiga, kata yang digunakan untuk bahasa halus bagi diri sendiri sama dengan bahasa halus yang digunakan kepada orang lain. Jumlahnya cukup banyak. Berikut ini di antaranya:
- bungah # bingah = bingah==senang/bahagia
- eleh # kawon= kawon==kalah
- kajeun # sawios = sawios==biar
- kungsi # kantos= kantos==pernah
- tepung # tepang = tepang==bertemu/berjumpa
POLA IV: A = B = C
Untuk pola keempat tidak ada pembedaan pada ketiga ragam. Termasuk dalam kategori ini antara lain kata tanya, kata tunjuk, bilangan, dll.
- aya = aya = aya== ada
- sabaraha = sabaraha = sabaraha== berapa
- kumaha = kumaha= kumaha== bagaimana
- naon = naon= naon==apa
- itu = itu = itu==itu
- ieu = ieu = ieu==ini
- kahiji = kahiji= kahiji==pertama
- kasapuluh = kasapuluh = kasapuluh== ke sepuluh
Jsb (jeung sajabana)== dll/dan lain-lain
Jika berbicara tata krama secara utuh tentunya bukan sekedar aspek kosakata. Namun kita pun harus memperhatikan aspek-aspek lainnya. Yang penting juga untuk diperhatikan antara lain: lentongna nyarita (gaya nyarita, intonasi); pasemon (mimik); rengkuh (gerakna awak/gesture); juga tata busana.
SEMOGA BERMANFAAT
- Ragam Basa Hormat
- Ragam Basa Lemes Pisan/Luhur, jenis bahasa ini biasanya digunakan kepada orang dengan jabatan tinggi atau bangsawan;
- Ragam Basa Lemes keur Batur, jenis bahasa ini digunakan pada orang yang dihormati, biasanya yang usianya lebih tua;
- Ragam basa Lemes keur Pribadi/Lemes Sedeng, merupakan kosakata halus yang khusus digunakan untuk diri sendiri ;
- Ragam Basa Lemes Kagok/Panengah, jenis bahasa ini yang digunakan untuk teks-teks semacam surat kabar, dan lain-lain;
- Ragam Basa Lemes Kampung/Dusun, merupakan ragam bahasa yang dikenal halus dalam beberapa komunitas lokal Sunda, bisa jadi terdapat keragaman di beberapa wilayah pengguna Basa Sunda yang berlainan, namun biasanya tidak digunakan dalam situasi resmi;
- Ragam Basa Lemes Budak, merupakan bahasa halus yang digunakan untuk berkomunikasi dengan anak-anak.
- Ragam Basa Loma
- Ragam Basa Loma (Akrab); Bahasa jenis ini digunakan dalam lingkup pergaulan kawan-kawan dekat. Misalnya kawan sepermainan.
- Ragam Basa Garihal/Songong (Sangat Kasar ). Ragam berbahasa ini digunakan pada objek hewan atau dalam kondisi marah besar/murka.
- Ragam Basa Hormat
- Ragam Basa Loma
Demikianlah perjalanan pembagian ragam Basa Sunda resmi sejak tahun 1986. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini, masyarakat masih menggunakan dua tipe bahasa halus, yaitu bahasa halus untuk diri sendiri, dan bahasa halus untuk orang lain. Bila ditambahkan dengan bahasa kasar (Basa Loma), disimpulkan ada tiga jenis ragam yang digunakan dalam komunitas masyarakat Sunda saat ini.
Dalam lanjutan tulisan berikut, sesuai dengan penggunaannya sehari-hari, akan digambarkan pola tatakrama Basa Sunda yang dibagi dalam tiga ragam, antara lain:
· Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A)
· Ragam basa Lemes keur Pribadi (B)
· Ragam basa Lemes keur Batur (C)
* Keterangan tanda: # tidak sama; = sama; == terjemahan dalam Bahasa Indonesia
POLA I: A # B # C
Jumlah kata yang menggunakan pola ini terhitung sedikit (sekitar 25 kata saja). Berikut ini contohnya:
- balik # wangsul # mulih ==pulang
- bawa # bantun # candak==membawa
- beuli # peser # galeuh==membeli
- boga # gaduh # kagungan==mempunyai/memiliki
- dahar # neda # tuang==makan
- datang # dongkap # sumping==datang
- denge # kuping # dangu==mendengar
- era # isin# lingsem==malu
- gering # udur # teu damang==sakit
- imah# rorompok # bumi==rumah
- indit # mios # angkat==pergi/berangkat
- kasakit # paudur # kasawat==penyakit
- menta # nyuhunkeun # mundut==meminta
- nitah # ngajurung # miwarang==menyuruh/memerintah
- ngomong # sasanggem#sasauran==berbicara
- nyaho # terang # uninga==mengetahui
- pamajikan # bojo # garwa/geureuha==istri
- poho # hilap# lali==lupa
- sare # mondok # kulem==tidur
- tanya # taros # pariksa==bertanya
- tenjo # tingal # tingali==melihat
Contoh penggunaan dalam kalimat:
- Ari maneh balik ka lembur teh arek iraha?
- Dupi abdi wangsul ka lembur teh bade enjing bae.
- Dupi akang bade mulih ka lembur teh bade iraha?
Bila kita perhatikan kalimat-kalimat di atas, predikatnya adalah “balik # WANGSUL # mulih”. A # B # C : A berbeda dengan B, B berbeda dengan C. Terdapat penggunaan diksi yang berbeda, bergantung pada subjek dalam kalimatnya. Pada kalimat pertama, subjeknya adalah “maneh”. “Maneh”, terjemahnya dalam Bahasa Indonesia adalah “kamu” (kata ganti orang kedua). Termasuk ragam Basa Loma/Akrab. Biasanya ditujukan pada kawan sebaya, sejawat, teman akrab, dll. Karena itu predikat yang dipilih untuk menyatakan “pulang” adalah “balik” (Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A)).
Sementara itu, kalimat kedua, subjeknya adalah “abdi” (saya). Jadi ragam bahasa yang digunakan adalah Basa Lemes keur Pribadi (B). Untuk kata pulang, digunakan “wangsul”. Terakhir, merupakan contoh kalimat dengan subjek “akang” (kata panggilan untuk orang ketiga yang dihormati/dituakan), digunakanlah Ragam basa Lemes keur Batur (C), sehingga predikat “pulang” dalam konteks ini menjadi “mulih”.
POLA II: A = B # C
Pola kedua mencakup kosakata yang tidak membedakan A dengan B, namun membedakan B dengan C.
Jadi, untuk diri sendiri menggunakan kata-kata kasar. Contoh utamanya yang terkait dengan bagian tubuh seperti “sirah” (kepala), “suku” (kaki). Untuk menyebutkan bagian tubuh kita sendiri seperti itu yang harus digunakan adalah bahasa kasar, sementara untuk orang lain, digunakan bahasa halus. Contohnya sebagai berikut:
- huntu = huntu # waos==gigi
- biwir = biwir # lambey==bibir
- irung =irung # pangambung==hidung
- baju = baju # raksukan==baju/pakaian
- lalajo = lalajo # nongton==menonton
- ngaji = ngaji# ngaos==mengaji
- nginum = nginum# ngaleueut==minum
- puasa = puasa # saum==berpuasa
- samping =samping # sinjang==(kain) sarung
- ulin = ulin # amengan==bermain
POLA III: A # B = C
Pola ketiga, kata yang digunakan untuk bahasa halus bagi diri sendiri sama dengan bahasa halus yang digunakan kepada orang lain. Jumlahnya cukup banyak. Berikut ini di antaranya:
- bungah # bingah = bingah==senang/bahagia
- eleh # kawon= kawon==kalah
- kajeun # sawios = sawios==biar
- kungsi # kantos= kantos==pernah
- tepung # tepang = tepang==bertemu/berjumpa
POLA IV: A = B = C
Untuk pola keempat tidak ada pembedaan pada ketiga ragam. Termasuk dalam kategori ini antara lain kata tanya, kata tunjuk, bilangan, dll.
- aya = aya = aya== ada
- sabaraha = sabaraha = sabaraha== berapa
- kumaha = kumaha= kumaha== bagaimana
- naon = naon= naon==apa
- itu = itu = itu==itu
- ieu = ieu = ieu==ini
- kahiji = kahiji= kahiji==pertama
- kasapuluh = kasapuluh = kasapuluh== ke sepuluh
Jsb (jeung sajabana)== dll/dan lain-lain
Jika berbicara tata krama secara utuh tentunya bukan sekedar aspek kosakata. Namun kita pun harus memperhatikan aspek-aspek lainnya. Yang penting juga untuk diperhatikan antara lain: lentongna nyarita (gaya nyarita, intonasi); pasemon (mimik); rengkuh (gerakna awak/gesture); juga tata busana.
SEMOGA BERMANFAAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar